Lampung Barat – Suasana saling berdesakan terjadi di Desa Kembahang, Kecamatan Batu Brak, Kabupaten Lampung Barat, Selasa (15/07/2025).
Ratusan warga memadati lokasi distribusi gas LPG bersubsidi 3 kilogram. Mereka saling dorong, berdesakan, dan berebut tabung.
Hanya 100 tabung gas yang tersedia, sementara jumlah warga yang mengantre mencapai lebih dari 300 orang.
Banyak yang sudah menunggu sejak subuh harus pulang dengan tangan hampa, beberapa lansia bahkan tak mampu menyembunyikan rasa kecewa dan lelah, ada pula yang hanya duduk lemas menatap sambil memegangi tabung gas yang kosong.
Maysah (67), warga Desa Sukabumi, tampak duduk di pinggir jalan. Ia sudah tiba sejak pukul 15:00 WIB, berharap bisa membawa pulang gas untuk memasak.
“Saya diantar anak dari Sukabumi, antre dari siang. Tapi nggak dapat apa-apa. Tolonglah, jangan cuma 100 tabung, warga yang datang ini banyak sekali,” ucapnya lirih.
Tak jauh dari situ, Nuhlimah (45) menunjukkan tabung kosong yang masih ia genggam.
“Dari siang pegang tabung ini, pulangnya cuma pindah tangan. Susah sekali sekarang cari gas!” keluhnya kesal.
Warga yang datang bukan hanya dari Kembahang, tapi juga dari desa-desa sekitar seperti Kegeringan dan Sukabumi. Mereka rela berdiri berjam-jam, hanya untuk kecewa di akhir antrean.
Ironisnya, pemerintah daerah menyatakan bahwa kuota LPG 3 kg tahun ini sebenarnya mencukupi.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Koprindak) Lampung Barat, Tri Umara Yani, menjelaskan ketika rapat koordinasi lintas sektor, yang melibatkan PT Pertamina, distributor, agen dan pangkalan LPG, serta aparat keamanan, Kamis (19/06/2025).
Bahwa total kuota LPG 3 kg untuk tahun 2025 mencapai 6.978 metrik ton atau sekitar 2,3 juta tabung
Namun, hingga pertengahan Juni, distribusi baru terealisasi sebesar 366 metrik ton atau sekitar 1,2 juta tabung.
Meski begitu, di mata warga, pernyataan semacam ini sudah sering mereka dengar. Janji-janji distribusi kerap tak terasa efeknya di lapangan.
Kelangkaan gas bersubsidi bukan fenomena baru di Lampung Barat.
Warga menyebut, masalah ini sudah berlangsung sejak lama, tanpa adanya perbaikan yang berarti.
“Udah dari waktu itu kami kesulitan mencari gas kadang kadang klo pas lagi langka saya terpaksa pake kayu bakar”, Ujar Lisa, warga Kembahang.
Masyarakat berharap pemerintah turun langsung ke lapangan, menyaksikan sendiri betapa sulitnya kondisi mereka. Bagi sebagian keluarga, gas 3 kg bukan sekadar kebutuhan harian, tapi simbol dari keberpihakan negara kepada rakyat kecil.





