Perang Sarung: Bukan Tradisi Islam

Ilustrasi perang sarung/Net

BANDARLAMPUNG – Serupa dengan aksi gengster, perang sarung kekinian jelas merupakan tindakan melawan hukum untuk tujuan mencelakakan orang lain. Perang sarung, meski dilakukan di bulan ramadhan, jelas bukan tradisi Islam.

Di Bandarlampung sendiri, perang sarung mulai marak ramadhan 2021. Dilakukan oleh kalangan remaja, usai shalat tarawih hingga menjelang sahur. Polanya mirip tawuran, dilakukan di jalanan, dengan senjata kain sarung yang digulung.

Bacaan Lainnya
Baca Juga  Penjabat di Lampung Barat dan Tulangbawang Beraroma 'Banteng'

Dulu, perang sarung biasa dilakukan anak-anak dengan maksud candaan karena tidak menyakitkan. Sekarang, perang sarung dilakukan untuk mencelakakan ‘pihak musuh’ dengan cara mengikat ujung sarung menjadi buntalan berisi batu atau benda padat lainnya. Sekali ayun, bisa melukai kepala, berdarah-darah hingga dievakuasi ke rumah sakit.

Namanya saja ‘perang’ tentu pelakunya tidak hanya satu orang. Situasinya menjadi terasa mengerikan karena selalu ditingkahi suara histeris yang menjijikkan.

Jelas perang sarung bukan tradisi bulan ramadhan. Fenomena ini muncul lahir belakangan seiring kenakalan anak-anak di era kekinian.

Sosiolog Universitas Padjajaran (Unpad), Nunung Nurwati menjelaskan perang sarung atau tarung sarung sebetulnya merupakan warisan tradisi dari Suku Bugis di Makassar, Sulawesi Selatan. Tradisi itu memang sudah mulai ditinggalkan di tempat asalnya dan kini malah dikonotasikan negatif di kalangan anak muda dengan bentuk kegiatan ekstrem yang justru meresahkan masyarakat.

Baca Juga  Buntut Kasus Suap Rektor Karomani, KPK Periksa 3 Kampus Lain

“Jadi sebetulnya, perang sarung atau tarung sarung itu tradisi dari Suku Bugis. Tahun 70-an tradisi itu sudah ditinggalkan, dan kekinian istilah tersebut malah digunakan anak-anak muda kita dengan kegiatan yang justru mengarahkan ke ranah tawuran. Itu jelas salah kaprah,” katanya.(IWA)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan