Perkara Suap Rektor Unila, Nama Herman HN dan Sekda Way Kanan Saipul Ikut Menyetor?

Wakil Rektor II Unila Profesor Asep Sukohar/ANT

BANDAR LAMPUNG – Tak ada satu pun bakal calon Rektor Unila yang mendaftar di hari pertama, kemarin. Situasinya kontras dengan sidang kasup suap Rektor Unila Karomani di PN Tanjungkarang yang berlangsung di hari yang sama, Rabu (16/11/2022).

Dua nama pejabat disebut-sebut di persidangan itu.

Bacaan Lainnya

Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Unila Prof. Asep Sukohar yang disebut-sebut menjadi calon kuat Rektor Unila malah duduk di kursi saksi di PN Tanjungkarang. Ia dihadirkan Jaksa KPK untuk memberikan kesaksian terhadap terdakwa Andi Desfiandi.

Boleh jadi Asep Sukohar akan mendaftar menjelang deadline tahap pendaftaran yang berakhir 29 November ini.

“Belum ada yang mendaftar. Mungkin karena banyaknya berkas yang harus disiapkan,” kata Ketua Pemilihan Rektor Unila, Prof Abdulrahman, Rabu (16/11/2022).

Di sisi lain, suasana persidangan di PN Tanjungkarang justru memunculkan sedikitnya dua nama pejabat yang diduga beririsan dengan perkara suap Rektor Unila tersebut.

Dua nama itu adalah mantan Wali Kota Bandar Lampung Herman HN dan Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Way Kanan, Saipul.

Nama Herman HN disebut menyetorkan Rp150 Juta untuk menitipkan seorang mahasiswi ke Fakultas Kedokteran Universitas Lampung (Unila) oleh Ahmad Handoko, Pengacara Andi Desfiandi.

Baca Juga  9 Santri di Tulangbawang Jadi Korban Pencabulan Oknum Guru

“Apakah saksi tahu Herman HN menitipkan Rp150 juta?” tanya Ahmad Handoko kepada saksi Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Unila Prof. Asep Sukohar.

“Saya tidak tahu,” kata Asep Sukohar.

Ahmad Handoko menjelaskan, dirinya menanyakan hal itu lantaran Asep Sukohar mengakui menerima tiga titipan hingga Rp650 juta dan menyerahkannya kepada Kepala Biro Perencanaan dan Hubungan Masyarakat Budi Sutomo untuk disetorkan ke Rektor Unila Karomani.

“Ada beberapa pihak yang menitipkan lewat Budi Sutomo dan Asep Sukohar. Di dalam BAP Budi, Pak Herman menitipkan satu mahasiswi Rp150 juta untuk masuk Fakultas Kedokteran Unila,” kata Ahmad Handoko usai persidangan.

Lewat juru bicaranya, Ketua DPW Nasdem Lampung Herman HN mengatakan, bakal segera memberikan klarifikasi soal namanya yang disebut menyetorkan Rp150 Juta di persidangan perkara suap Universitas Lampung (Unila).

“Ada waktunya Pak Herman HN akan menyampaikan keterangan ke media,” kata Juru Bicara Herman HN, Rakhmat Husein DC, Rabu (16/11), seperti dikutip rmollampung.

Husein melanjutkan, Herman HN dengan tegas mendukung penegakan hukum yang dilakukan oleh KPK. jika dibutuhkan, Herman HN siap untuk memberikan kesaksian di pengadilan.

“Kita ikuti perkembangan sidangnya, intinya Bapak mendukung penegakan hukum KPK,” kata Husein di Kantor Nasdem Lampung.

Sedangkan nama Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Kabupaten Way Kanan, Saipul disebut oleh saksi Budiono. Ia mengatakan Saipul ikut menitip Rp250 juta untuk meloloskan keponakannya masuk Universitas Lampung (Unila).

Baca Juga  Ada 'Pajak' Lahan di Register 38 Gunung Balak

Budiono adalah Ketua Satuan Pengendalian Internal (SPI) Unila. Dipersidangan ia membeberkan Saipul pernah menemui dan meminta bantuannya dengan mengatakan kesanggupan menandatangani uang Sumbangan Pembangunan Institusi (SPI) Rp250 juta.

“Saya di rumah didatangi kawan, Saipul dari Waykanan, kebetulan saya tenaga ahli Pemkab Waykanan. Dia punya kesanggupan bayar 250 untuk SPI, tapi saya bilang gak punya kewenangan meluluskan mahasiswa,” ujarnya.

Permintaan tersebut, kata Budiono, dirinya sampaikan Kepada Wakil Rektor I Bidang Akademik Heryandi. Setelah itu, dirinya tak ikut campur lagi.

Selain itu, Budiono mengaku pernah didatangi oleh Bambang Hartono (diduga Wakil Rektor Universitas Bandar Lampung), yang menyampaikan bahwa anaknya juga mendaftar di Unila pada Fakultas Farmasi dan sudah menandatangani kesanggupan menyumbang SPI 150 juta untuk Farmasi.

Kemudian, titipan ketiga datang dari salah satu pegawai Pemkab Way Kanan bernama Nuryandi, untuk membantu diluluskan masuk Unila jurusan Teknik Informatika.

Lalu terakhir, mahasiswa titipan datang dari kakak iparnya sendiri bernama Maida, yang berkeinginan memindahkan sang anak dari Fakultas Ekonomi ke Fakultas Hukum.

Setelah menerima nama-nama titipan itu, Budiono menemui Heryandi. Namun, karena Heryandi hendak keluar, maka nama itu dititipkan ke Sekertaris Heryandi bernama Widyatmoko.

“Selesai itu sudah tidak saya tanyakan lagi, dan benar Pak Nuryadi pernah menelpon saya ya saya bilang yang penting masuk passing grade, berdoa, dan belajar,” katanya Budiono.(RED)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan