Sifilis Mengancam (Studi Kasus di Lamsel): Setop ‘Jajan’ Sembarang Tanpa Pengaman!
Oleh: Iwa Perkasa*
SIFILIS mengancam. Ini adalah penyakit kotor, memalukan, dus menjijikkan. Satu orang yang terinfeksi dapat menularkan ke banyak orang dengan waktu yang cepat, lalu berlanjut menginfeksi ke banyak orang, bahkan mengancam bayi lahir cacat.
Penyakit purba yang sudah ada sejak dahulu kala. Pemicunya didominasi disebabkan oleh hubungan seks yang ugal, ‘basing’ atau ‘jajan’ tanpa pengaman.
Penyakit yang dilabel ‘Raja Singa’ ini pernah menjadi penyakit paling menakutkan di masa lalu, ketika sarung berbahan latek belum diproduksi massal. Asal tahu saja, penyakit purba ini masih ada sampai kini. Penyakit ini ada, nyata dan bisa menulari siapa saja yang jajan sembarang.
Sifilis di Lampung Selatan
Pengen tahu, di Lampung Selatan saja sudah ada 8 orang yang terinfeksi Sifilis. Kok bisa! Menular dari mana….? Entahlah!
Kabar ini, sebaiknya dipublikasikan secara masif oleh Dinas Kesehatan setempat. Kalau perlu dibuatkan imbauan melalui baliho ukuran besar di lokasi yang mudah terlihat.
Ini contoh teks Balihonya: “Hati-hati Sifilis Mengancam, Jangan ‘Jajan’ Sembarang”. “Lindungi Pasangan dan Bayi Anda dari Kecacatan”. “Jika Terlanjur Berteman dengan Raja Singa Buruan Berobat ke Puskes Terdekat.”
Terserah, foto siapa yang akan dipajang. Bupati Nanang boleh, Ketua PKK Winarni juga oke, atau Kadis Kesehatan Lampung Selatan. Intinya, imbauan ini sangat penting disosialisasikan. Antisipasi, sebelum muncul kasus baru yang lebih banyak lagi.
Delapan orang yang terinfeksi di Lampung Selatan itu diakui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lampung Selatan. Angka itu positif dan angka akumulasi sepanjang Januari-Mei 2023.
Sangat mungkin jumlah kasus sifilis di sana lebih banyak. Sebab, tidak semua penderita yang terjangkit berobat ke pusat layanan kesehatan. Malu!
Tahun lalu, ada 20 kasus sifilis di kabupaten ini, demikian Dinkes Lamsel melaporkan. Sekali lagi, tentu saja jumlah kasusnya bisa lebih banyak.
Sifilis di Indonesia
Kabar buruknya, berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), penyakit sifilis di Tanah Air terus meningkat dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2016-2022). Ngeri!
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan sebanyak 20.783 orang telah terkonfirmasi terinfeksi penyakit sifilis dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia selama tahun 2022.
Kasus paling tinggi ditemukan pada kelompok usia 25-49 tahun mencapai 63 persen.
Kelompok populasi penderita sifilis paling banyak ditemukan pada laki-laki yang melakukan seks dengan laki-laki (LSL) sebesar 28 persen, diikuti ibu hamil 27 persen, pasangan berisiko tinggi (risti) sembilan persen, Wanita Pekerja Seks (WPS) sembilan persen, Pelanggan Pekerja Seks (PPS) empat persen, Injection Drug Users (IDUs) 0,15 persen, waria tiga persen, dan lain-lain 20 persen.
Beberapa penyebab dari banyak kasus sifilis tersebut berhubungan erat dengan perilaku masyarakat yang gemar berhubungan seks secara berisiko, tanpa menggunakan kondom.
Selain itu, terdapat kelompok tertentu yang sering berganti pasangan ketika seks, hingga pria yang berhubungan seks dengan sesama jenis.
Kondisi itu jelas memprihatinkan karena pada 2022, sebanyak 5.590 ibu hamil positif terkena sifilis, sedangkan yang sudah mendapatkan pengobatan baru berkisar 2.227 ibu.
Apa itu Sifilis?
Dikutip dari https://www.siloamhospitals.com, Sifilis adalah penyakit pada organ reproduksi wanita maupun pria yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Penyakit ini dapat menular apabila seseorang melakukan aktivitas seksual dengan penderitanya.
Umumnya, sifilis adalah penyakit yang diawali dengan luka di sekitar alat kelamin, dubur, ataupun mulut. Awal kemunculan luka cenderung tidak disertai dengan rasa nyeri.
Karena lukanya tidak terasa nyeri, sifilis kadang tidak langsung disadari oleh penderitanya. Walau begitu, penderita sifilis tetap bisa menularkan infeksinya ke orang lain.
Apabila tidak ditangani sesegera mungkin, sifilis berisiko menyebabkan komplikasi penyakit lain, seperti kerusakan jantung, tumor, infeksi HIV, dan gangguan kehamilan serta persalinan bagi ibu hamil.
Penyebab Sifilis
Bakteri yang dapat menyebabkan penyakit sifilis adalah jenis Treponema pallidum. Bakteri tersebut menginfeksi tubuh manusia melalui luka di alat kelamin, anus, bibir, maupun mulut.
Penularan sifilis dipicu oleh aktivitas seksual yang dilakukan oleh penderitanya, seperti penetrasi, seks oral, atau seks anal.
Karena itulah, sifilis adalah penyakit menular yang dapat dicegah dengan menggunakan alat pengaman, seperti kondom, saat melakukan aktivitas seksual.
Selain itu, sifilis adalah penyakit yang juga berpotensi ditularkan dari ibu penderita ke bayinya. Sifilis bawaan pada bayi baru lahir disebut dengan istilah sifilis kongenital.
Kondisi sifilis kongenital pada bayi dapat dikurangi risikonya dengan mengobati penyakit tersebut sebelum ibu hamil memasuki umur kehamilan 4 bulan.
Gejala Penyakit Sifilis
Gejala penyakit sifilis terdiri dari 4 tahap. Adapun gejala penyakit sifilis adalah sebagai berikut.
1. Sifilis Primer
Ciri-ciri penyakit sifilis primer ditandai dengan munculnya luka pada alat kelamin, dubur, bibir, maupun mulut. Munculnya luka tersebut akan terjadi 10 sampai dengan 90 hari setelah bakteri Treponema pallidum masuk ke dalam tubuh.
Lama waktu pemulihan sifilis primer yaitu kurang lebih 3 hingga 6 minggu. Namun, bila sejak muncul luka tidak diobati, hilangnya luka ini justru menandakan infeksi telah berkembang ke tahap selanjutnya.
Oleh karena itu, Anda disarankan untuk mendatangi dokter sesegera mungkin pada tahapan ini karena masih dapat ditangani dengan mengonsumsi obat tertentu sehingga sifilis tidak beralih ke tahap selanjutnya.
Selain luka, dapat juga ditemukan pembengkakan kelenjar getah bening di daerah selangkangan yang menandakan adanya reaksi sistem kekebalan tubuh melawan infeksi sifilis.
2. Sifilis Sekunder
Sifilis sekunder adalah tahapan yang akan terjadi beberapa minggu setelah luka di sekitar alat kelamin, dubur, bibir, atau mulut menghilang.
Gejala yang ditimbulkan dari sifilis sekunder yaitu munculnya ruam di beberapa bagian tubuh, seperti telapak tangan atau kaki. Di samping itu, penderita sifilis sekunder juga akan merasakan beberapa gejala lain, seperti:
Flu
Sakit kepala
Nyeri sendi
Demam
Merasa lelah secara berlebihan
Pembesaran kelenjar getah bening
Rambut rontok
Penurunan berat badan
3. Sifilis Laten
Di tahapan ini, penderita sifilis tidak mengalami gejala klinis tertentu. Namun, di 12 bulan pertama sifilis laten terjadi, penderita masih dapat menularkan infeksinya.
Setelah 2 tahun, infeksi tidak dapat menular lagi, meskipun bakteri penyebab sifilis masih ada di dalam tubuh.
Apabila tidak segera ditangani, sifilis laten dapat berlanjut ke tahap berikutnya, yaitu tersier.
4. Sifilis Tersier
Infeksi sifilis tahap tersier ini merupakan tahapan dalam penyakit sifilis yang paling berbahaya. Tahap ini biasanya muncul 10 – 30 tahun setelah infeksi primer. Gejala sifilis tersier umumnya ditandai dengan munculnya gumma atau tumor kecil pada bagian tubuh tertentu.
Di samping itu, sifilis tersier juga dapat berdampak pada organ tubuh lain, seperti jantung, otak, mata, hati, serta pembuluh darah.
Karena itulah, penderita sifilis tersier rentan untuk terkena penyakit jantung dan stroke.
Diagnosis Sifilis
Dokter biasanya akan melakukan diagnosis penyakit sifilis ini dengan melakukan pemeriksaan darah di laboratorium.
Ada dua jenis pemeriksaan darah untuk diagnosis sifilis, yaitu tes VDRL (Venereal Disease Research Laboratory) dan tes TPHA (Treponema Pallidum Haemagglutination).
Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mendeteksi antibodi terhadap bakteri sifilis.
Langkah Pengobatan Sifilis
Langkah pengobatan sifilis dilakukan sesuai dengan tahapannya. Bagi penderita sifilis primer dan sekunder, dokter akan mengobatinya dengan menyuntikkan antibiotik ke dalam otot.
Sedangkan, untuk penderita sifilis tersier akan mendapatkan antibiotik melalui jalur intravena (infus). Untuk ibu hamil penderita penyakit ini juga akan mendapatkan penanganan yang sama dengan pengidap sifilis tersier.
Setelah mendapatkan pengobatan, penderita sifilis akan melakukan pemeriksaan darah kembali untuk memastikan bahwa infeksi telah sembuh total.
*Pemimpin Redaksi Haluan Lampung





