Uang Makan Peserta Khotmil Quran Pringsewu Disoal

Uang Makan Peserta Khotmil Quran Pringsewu Disoal
Uang Makan Peserta Khotmil Quran Pringsewu Disoal. Foto Istimewa

Pringsewu – Meski telah setahun kegiatan ini dilaksanakan, namun penggunaan dana Rp81 juta untuk biaya makan dan minum peserta Khotmil Quran tingkat Kabupaten Pringsewu 2022, disoal.

Penyebabnya, sumber dana dari hibah Lembaga Pengembangan Tilawaril Quran (LPTQ) Kanwil Departemen Agama Pringsewu tersebut tak jelas peruntukannya.

Bacaan Lainnya

Mendasari penuturan beberapa peserta Khotmil Quran, saat mereka mengikuti kegiatan yang dilaksanakan di Masjid Darussalam Komplek Perkantoran Pemda Kabupaten Pringsewu 2023, semua peserta tidak memperoleh ‘jatah’ makan siang.

“Cuma snake (kue makanan ringan),” kata salah seorang peserta, Senin (30/10/2023).

Menurutnya, semua peserta Khotmil Quran, adalah perwakilan guru sekolah dasar (SD) dari 9 wilayah kecamatan yang ada di Pringsewu.

“Pesertanya perwakilan guru SD di tiap-tiap kecamatan. Tapi gak semua perwakilan hadir,” kata narasumber yang juga pengurus K3SD ini.

Sumber lain menyatakan, jika kegiatan itu hanya berlangsung beberapa jam saja. Soal ‘jatah’ makan siang, dia menjelaskan, peserta selesai sebelum waktu zuhur.

“Hanya diberi snack. Acara selesai, peserta pulang. Seingat saya, tidak ada makan siang,” ujar wanita yang juga bertindak sebagai panitia Khotmil Quran Kecamatan itu.

Baca Juga  Kecamatan Ambarawa Juara Umum MTQ Ke-8 Kabupaten Pringsewu

Dari keterangan beberapa pihak tersebut, muncul praduga adanya penyalahgunaan anggaran. Utamanya, pada pos anggaran makan dan minum.

Dari data yang diperoleh wartawan, diketahui bila penyelenggaraan Khotmil Quran 2023 ditopang menggunakan dana hibah LPTQ Kanwil Depag Kabupaten Pringsewu.

Beberapa pos yang terinci, di antaranya untuk kegiatan Khotmil Quran Rp106 juta. Yakni, Rp25 juta untuk pembuatan piagam penghargaan serta Rp81 juta untuk biaya makan dan minum peserta. Nah, anggaran Rp81 juta untuk biaya makan dan minum peserta inilah yang disoal.

Namun entah bagaimana, beberapa guru -selaku panitia penyelenggara kegiatan yang dikonfirmasi, justeru merasa khawatir.

Mereka takut terseret dalam persoalan hukum.

“Selain menjadi peserta, kami yang juga melaksanakan kegiatan itu (Khotmil Quran) jadi takut bakal terkena masalah (hukum),” ungkap salah seorang guru yang juga Ketua K3S di salah satu kecamatan.

Dia mengaku kegiatan Khotmil Quran di kecamatannya sudah dilaksanakan beberapa minggu yang lalu. Menurutnya, kegiatan Khotmil Quran para guru mulai dari jenjang PAUD, TK, SD dan SMP dilaksanakan atas dasar imbauan dari LPTQ Kabupaten.

“Kami menjalankan kegiatan berdasarkan imbauan pimpinan,” ungkapnya.

Sebelumnya, dugaan pungli kegiatan Khotmil Quran Kabupaten Pringsewu 2023 ini muncul ke permukaan, usai pihak sekolah mengeluhkan adanya permintaan iuran disertai ‘ancaman’ penundaan penyaluran bantuan sekolah jika menolak. Dari sinilah masalahnya ada.

Baca Juga  Realiasi Dana Desa di Pekon Enggalrejo Diduga Fiktif?

Muncul kesan, seolah penarikan dana iuran ke sekolah-sekolah dengan dalih dana kebersamaan adalah wajib dan lazim dilakukan pada kegiatan Khotmil Quran di kecamatan.

Termasuk keterlibatan pihak sekolah dan sejumlah OPD setiap kegiatan LPTQ terkesan untuk mensiasati dana bantuan tambahan.

Digarapkan, ada transparansi penggunaan anggaran kegiatan yang menjadi program kerja LPTQ.

Mengingat kegiatan Khotmil Quran menjadi bagian dari program kerja, sekaligus tugas pokok LPTQ Pringsewu, selain pula persiapan dan peyelenggaraan MTQ/STQ secara berjenjang, maupun pembinaan tilawah dan tahfiz.

Diketahui kegiatan Khotmil Quran menjadi kegiatan rutin LPTQ Kabupaten Pringsewu tiap tahun.

Pelaksanaan Khotmil Quran sempat mandek lantaran pagebluk Covid 2019 lalu. Informasi yang berhasil dimpun wartawan, kegiatan Khotmil Quran kembali dilaksanakan pada tahun 2021.

Saat itu, LPTQ sempat menyediakan link bagi masyarakat umum untuk melakukan pendaftaran online sebagai peserta. Namun, pelaksanaan Khotmil Quran ditahun berikutnya hanya melalui instruksi LPTQ Kabupaten dan hanya diikuti oleh perwakilan guru saja, yakni kepala sekolah dan guru PAI.(*)

Pos terkait