Dinkes Lampung: Difteri Dapat Dicegah dengan Imunisasi Dini dan Rutin

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Reihana/Net

BANDARLAMPUNG – Kematian seorang bocah berusia sembilan tahun di Lampung Barat diduga akibat difteri sepatutnya menjadi perhatian serius seluruh Dinas Kesehatan di Lampung. Sebab, penyakit ini mudah menular dan mematikan.

Jika hasil laboratorium nanti membuktikan kematian bocah itu disebabkan serangan difteri, maka ini merupakan kasus pertama setelah pada 2022 lalu nihil kasus.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Lampung, Reihana, Desember 2022 lalu menyatakan belum ada kasus Difteri di Provinsi Lampung.

Hal ini diungkapkan dalam rangka menyikapi pemberitaan yang menyebut telah terjadi kasus kejadian luar biasa (KLB).

“Alhamdulillah hingga saat ini belum ada kasus Difteri di Provinsi Lampung, dan jajaran kesehatan terus melakukan pemantauan secara ketat atas instruksiPak Gubernur,” ujar dia, Rabu (8/3/2023).

Reihana menguraikan, maraknya kasus Difteri yang dilaporkan di beberapa provinsi seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten, telah diantisipasioleh Pemerintah Provinsi Lampung melalui kewaspadaan.

Secara nasional, untuk mengantisipasi dan mencegah penyakit difteri, Menkes sudah merilis Surat Edaran Menkes Nomor HK.02.01/MENKES/158/2017.

SE tersebut oleh Reihana telah disampaikan kepada seluruh tim Surveilans Epidemiologibaik kabupaten/kota hingga Puskesmas.

Berdasarkan laporan SKDR (Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon), kasus Difteri pernah dilaporkan terjadi di Lampung pada 2015 lalu. Waktu itu ada tiga kasus, namun hasil pemeriksaan laboratorium negatif. Sebelumnya pada 2014 satu kasus dengan hasil pemeriksaan laboratorium negatif. Sementara pada 2016 tidak ada kasus.

Reihana menerangkan, Difteri adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri CorynebacteriumDiphteria. Penyakit ini sangat menular dan dapatmenyebabkan kematian jika tidak ditangani secara cepat dan tepat.

Namun penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi rutin yang lengkap (dasar padabayi, lanjutan pada anak usia di bawah dua tahun, anak usia sekolah dasar (SD) sederajat.

“Ciri-ciri penyakit Difteri adalah demam 38 derajatcelsius, munculnya pseudomembran putih, keabu-abuan, tidak mudah lepas dan mudah berdarah, sakitwaktu menelan, leher membengkak seperti leher sapi, akibat pembengkakan kelenjar leher serta sesak nafas,” tutupnya.(*/IWA)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan