Lampung Utara — Rizky tak pernah membayangkan bahwa niatnya untuk berobat justru berubah menjadi pengalaman yang mengerikan. Pria itu datang ke RS Handayani Kotabumi pada 7 Juni 2025 dengan harapan sembuh dari ambeien yang dideritanya. Namun setelah menjalani operasi hemoroid oleh dokter yang disebut bernama dr Jan Markus, perjalanan penyembuhannya justru berubah menjadi mimpi buruk.
Rizky menuturkan, sejak awal dirinya hanya mengikuti seluruh arahan dokter karena ingin segera pulih. “Saya sudah kesakitan dan ingin cepat sembuh. Jadi ketika dokter bilang harus operasi, saya langsung setuju,” ujarnya pada Rabu (10/12/2025).
Namun setelah operasi, rasa sakitnya malah semakin hebat. Ketika mencoba buang air besar, ia merasakan nyeri luar biasa. “Saya baru tahu kalau jahitannya hampir menutup seluruh lubang anus. Makanya saya tidak bisa BAB sama sekali,” katanya.
Selama lima hari pertama pascaoperasi, Rizky tidak bisa buang air besar. Istrinya meminta obat pereda sakit kepada dokter jaga, tetapi justru mendapat resep Orinox 90 mg yang harus dibeli di apotek seharga Rp76.085, meski pasien menggunakan BPJS. “Kami bingung, tapi apa boleh buat, obat itu tetap kami beli,” katanya.
Pada kontrol hari kelima, Rizky hanya diminta makan pepaya untuk membantu BAB. Instruksi itu diikutinya hampir sebulan, tetapi kondisinya tidak berubah. “Saya makan pepaya tiap hari, tapi tetap tidak bisa buang air besar. Saya sudah stres dan takut,” ujarnya.
Saat kontrol berikutnya, ia dirujuk ke dokter penyakit dalam karena kondisi perutnya penuh gas. Pemeriksaan lanjutan membuat Rizky harus dirujuk ke RS Urip Sumoharjo, Bandar Lampung. Di sinilah ia mendapatkan kabar pahit.
“Dokter bilang lubang anus saya rusak 80 persen karena terlalu banyak jahitan. Saya harus operasi ulang untuk memperbaikinya,” bebernya. Setelah operasi kedua, Rizky masih belum dapat BAB hingga akhirnya disarankan menjalani kolostomi agar proses perbaikan anus bisa dilakukan.
Rangkaian operasi ini membuat Rizky merasa hidupnya berubah drastis. Ia mengaku trauma dan merasa tindakan medis yang diterimanya pada operasi pertama tidak sesuai standar. “Saya menduga dokter itu bukan spesialis hemoroid. Kalau benar begitu, saya seperti dijadikan percobaan. Saya hanya ingin sembuh, tapi malah hampir cacat,” ucapnya.
Di sisi lain, pihak RS Handayani menyatakan masih menelusuri kasus ini secara internal. Direktur RS, dr Ratna Sari Ritonga, mengatakan rumah sakit pada prinsipnya bersedia memberi klarifikasi setelah proses penelusuran selesai dan akan disampaikan melalui bagian Humas.
Hingga berita ini diterbitkan, Humas RS Handayani belum dapat dihubungi.
Rizky berharap rumah sakit tidak lepas tangan dan ada tanggung jawab atas kondisinya. “Saya sudah menjalani tiga operasi dan hidup saya berubah total. Saya hanya berharap keadilan,” tutupnya. (Red)








