Oleh : Yuridhis Mahendra
Alumni PMII STKIP PGRI Bandar lampung
Historia Vitae Magistra,
“Sejarah adalah guru kehidupan” oleh Marcus Tullius Cicero, seorang filsuf dan negarawan Romawi kuno ini menurut saya adalah kalimat yang pas untuk menggambarkan betapa banyak hal yang sudah kami dapatkan dalam berkaderisasi Di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.
” Long The historical” PMII telah menggoreskan sebuah catatan peradabannya di mulai, pada tanggal 17 April tahun 1960 di Surabaya, Jawa Timur lahirlah organisasi Kemahasiswaan yang bercorak keislaman dengan berideologikan Pancasila dan berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyyah Kemudian Organisasi Ini Bertranformasi menjadi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang selanjutnya disingkat PMII.
Ya, Tepat pada Jumat 17 April 2026, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia kembali berulang tahun yang ke-63 tahun. Mau Di Akui Atau Tidak PMII sebagai organisasi kader dan organisasi kemahasiswaan terbesar di Indonesia saat ini, di dalam tulisan Ini saya bukan bermaksud untuk Membangun Ego Sektoral dalam balutan Romantisme Sejarah dari Satu Organisasi yang sudah banyak melahirkan kader-kader terbaik yang berkontribusi secara positif terhadap perbaikan ummat dan perbaikan bangsa Indonesia.
Sejak didirikan, PMII senantiasa memiliki semangat yang kuat untuk mengoptimalkan pengabdiannya terhadap agama, bangsa dan negara. Kader PMII menjadi Dirinya sebagai garda terdepan dalam kemajuan dan perbaikan bangsa adalah narasi final dalam memori kader dan alumninya.
Merefleksikan sejarah pergerakan dan pergulatan PMII dalam kancah nasional dan lokal, kiranya setiap kader memiliki catatan-catatan khusus yang penting untuk disuarakan, apalagi dalam rangka bulan pergerakan doa, ikhtiar dan harapan-harapan besar wajib untuk dipanjatkan.
Sebagai Kader Alumni yang senantiasa Menyimak, bergulat dengan ide serta menilai realitas perpolitikan nasional dan local, saya mencoba merefleksikan perjalanan PMII yang ke 66 tahun terlepas kemudian saya menghadirkan satu pertanyaan penting melalui sekelumit catatan yang kiranya memunculkan asumsi apakah perlu dijawab oleh setiap Insan Pergerakan di seluruh pelosok Nusantara, atau pun Tidak itu terserah.
Dalam Usianya yang ke 66 Tahun PMII Mengabdi Sudah Siapkah warga PMII dalam Menghadapi Pergulatan Kepemimpinan Nasional 2026 yang saat ini sudah siap lepas landas Menuju Indonesia Emas .. ??
Di era revolusi industry seperti saat ini, persoalan Kepemimpinan Selalu Di asumsikan kedalam manusia dan kontestasi seolah dua hal ini selalu menghadirkan sesuatu yang sulit dihindari, bahkan seluruh kader PMII aktif maupun alumni seakan di Paksa atau terpaksa Untuk Selalu mengatakan “SIAP” untuk mengisi didalamnya celah celah ruang yang kosong.
Lalu Apakah penting PMII kemudian melakukan orkestrasi kelembagaan dan serta bersinergi (kolaborasi) dengan semua pihak dalam membangunan tatanan kehidupan kerakyataan yang inklusif. Sehingga, PMII diharapkan akan mencapai lompatan-lompatan besar yang bukan saja menjawab tantangan zaman akan tetapi bergerak melampauhi zaman dalam menyambut Indonesia Emas 2045 dan PMII Emas 2060.
Lalu Saya teringat beberapa hari Yang lalu dalam pembicaraan melalui via Telepon dengan salah satu Senior Saya Fajrun Nadjah Ahmad Yang Di kenal Bang Fajar beliau merupakan salah satu Putra dari pendiri PMII Nuril Huda Suady HA (Surakarta) yang tak pernah bosan membangun semangat pergerakan dan senantiasa mengatakan ” Idealnya seluruh kader Aktif maupun alumni harus mampu membangkitan dan membangun kesadaran kebersamaan penuh tanggung jawab Baik secara kelembagaan struktur maupun sistem yang dibangun oleh PMII harus berpusat, disinilah kita selaku kader dipaksa harus mampu mengaplikasikan dalam mengorkestrasi balutan gerakan di semua sektor pengabdian seperti politisi, perguruan tinggi (dosen), birokrasi, penyelenggara pemilu, pengusaha atau pembisnis, dan profesi penting lainnya.”
Masih Kuat dalam Ingatan Pada peringatan harlah PMII ke 62 tahun lalu, PB PMII menawarkan tema nasional yakni “Transformasi Organisasi, Merawat Peradaban. Ketua Majelis Nasional PB PMII, Sahabat A. Muhaimin Iskandar dalam Pidato Pergerakan di Museum Nasional, Jakarta Pusat pada puncak peringatan harlah tersebut yang disaksikan oleh Wakil Presiden Indonesia K.H. Ma’ruf Amin menegaskan, tema hari jadi PMII ini sangat relevan, tema ini penting untuk didorong secara serius menjadi “Transformasi Kebangsaan, Merawat Peradaban”.
Lalu selaku kader PMII Apakah semua kata yang dirangkai dalam kalimat itu telah mampu kita artikan dalam balutan Merefleksikan ini kita lakukan.
Dalam sebuah Ketegasan diri terhadap keberpihakan perjuangan. Selaku kader PMII tentu tahu bahwa dalam bergerak dan bertindak adalah semata-mata untuk kepentingan kaum mustad’afin. Dalam frasa yang lebih luas, maka basis perjuangan PMII adalah berjuang untuk mereka yang selalu dilemahkan, mereka yang selalu ditindas, mereka yang selalu dikalahkan, dan mereka yang tengah memperjuangkan hak-haknya baik hak hidup, hak sosial dan hak politik, hak public dan hak ekonomi
Seiring senada dalam kegegap gembitaan muncul sebuah doktrin yang terlanjur mendarah daging “Yang dapat mengalahkan kepemimpinan popularitas hanyalah kepemimpinan rakyat. Kepemimpinan rakyat adalah kepemimpinan yang lahir dari dunia aktifis kemahasiswaan, sebab, kita semua berjuangan bersama rakyat dan mencium keringat rakyat, Tapi apakah doktrin ini bisa dapat dipertanggung jawabkan ataukah berbanding Terbalik “Seperti menggantang Asap”
Kepemimpinan generasi muda saat ini berada dalam fase ini bukan hanya penuh tantangan tapi juga rentan indentitas. Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang semakin cepat, muncul kecenderungan bahwa kepemimpinan tidak lagi bertumpu pada kedalaman nilai, melainkan pada kecepatan tampil, popularitas, dan citra publik. Akibatnya, ruang kepemimpinan menjadi semakin rentan terhadap krisis integritas, baik di level birokrasi, akademik, maupun sosial.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi, generasi muda hari ini tumbuh dalam ruang yang serba instan. Akses informasi yang luas tidak selalu diiringi dengan kedalaman pemahaman. Akibatnya, muncul kecenderungan kepemimpinan yang dangkal—mudah tampil, tetapi lemah dalam substansi.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep liquid modernity dari Zygmunt Bauman, yakni kondisi ketika nilai, identitas, dan komitmen menjadi cair dan mudah berubah (Bauman, 2000). Dalam situasi seperti ini, kepemimpinan tidak lagi bertumpu pada integritas, melainkan pada citra dan popularitas yang bersifat sementara.
Kader PMII tentunya perlu melakukan reorientasi kaderisasi secara konkret. Pertama, memperkuat sistem mentoring berbasis keteladanan, bukan sekadar instruksi struktural. Kedua, menghadirkan ruang praktik kepemimpinan melalui program sosial yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Ketiga, membangun kultur organisasi yang menempatkan integritas di atas loyalitas buta.
Selain itu, semua lapisan kader juga perlu didorong untuk terlibat langsung dalam problem sosial di sekitarnya. Kepemimpinan tidak akan tumbuh dalam ruang yang steril, tetapi melalui pengalaman langsung menghadapi realitas sosial yang kompleks.
Pada akhirnya, krisis kepemimpinan generasi muda bukanlah akhir, melainkan momentum koreksi. Justru di titik inilah PMII ditantang untuk membuktikan relevansinya sebagai organisasi kader.
Tentunya Dalam Kesempatan Harlah ke-66 pada tahun ini saya Berharap menjadi “Ruang Refleksi Yang Jujur” Bukan hanya merayakan untuk mengenang sejarah, tetapi menegaskan kembali arah gerakan di tengah realitas yang semakin kompleks. Sebab ketika kepemimpinan kehilangan integritas, maka yang runtuh bukan hanya individu, tetapi juga kepercayaan publik terhadap Organisasi ” Barakallah Fi Umrik PMII Ku Panjang Umur Pergerakan Ku”
Dalam harapan di titik itulah PMII dituntut hadir—bukan sebagai simbol wacana, tetapi sebagai kekuatan kader yang melahirkan kepemimpinan yang utuh, berintegritas, dan berdampak nyata dalam sebuah balutan kata ” apa adanya bukan ada apanya..








