Terindikasi Korupsi, APH Diminta Periksa Proyek SPALD Pesawaran

Warga menunjukan plang berukuran 1 meter persegi yang konon harganya Rp300 ribu/MDS-Dok.Haluan

PESAWARAN – Fakta kebocoran hingga menguapnya gas berbau tinja pada Saluran Pembuang Air Limbah Domestik (SPALD) oleh PUPR Pesawaran di Desa Durian, Padang Cermin membuktikan proyek itu dikerjakan asal-asalan.

Warga mendesak praktik pengerjaan yang asal-asalan di desanya dapat menjadi perhatian aparat penegak hukum.

Bacaan Lainnya

“Kalau mau bangun di sini yang bener. Buat apa dibangun kalau kami harus mencium bau tinja tiap hari,” kata seorang warga.

Diketahui, proyek SPALD tersebut memakan anggaran lumayan besar sebesar Rp600 juta yang bersumber pada proyek pengadaan anggaran tahun 2022 di Dinas PUPR. Proyek ini di swakelola POKMAS (Kelompok Masyarakat).

Proyek berbau tinja ini patut diduga telah dikorupsi. Pengerjaan baru selesai tapi sudah nampak tidak terawat. Pintu WC sudah rusak. Di bagian dalam tidak ada penerangan lampu.

Di sana pernah ada plang berukuran 1 meter persegi yang konon harganya Rp300.000. Para pekerja saat pembangunan juga diberikan peralatan keselamatan kerja. Seorang pekerja mengaku membeli sendiri sepatu boot, helm dan sarung tangan.

“Kalau saya beli sendiri,” ujar kepala tukang saat di konfirmasi Haluan Lampung, Jumat (10/3/2023).

Proyek SPALD serta IPAL (Komunal ) ini tersebar di 9 Desa yang ada di Kabupaten Pesawaran dengan anggaran total Rp5 miliar.

Sebelumnya diberitakan warga Desa Durian, Kecamatan Padang Cermin, yang wilayahnya mendapat proyek pembangunan Saluran Pembuang Air Limbah Domestik (SPALD) setempat, mengeluhkan bau yang sangat tidak sedap yang muncul selama beberapa minggu terakhir.

Padahal pembangunan SPALD-S dilakukan sebagai bagian dari program pengembangan infrastruktur desa yang bertujuan untuk meningkatkan kondisi sanitasi dan mengurangi dampak limbah domestik pada lingkungan.

Namun, para warga sekitar mengeluhkan bau yang muncul dari proyek tersebut yang sangat mengganggu keseharian mereka.

Beberapa warga mengatakan bahwa bau yang muncul sangat menyengat dan sulit untuk dihilangkan meskipun sudah membuka atau menutup semua jendela rumah.

Hal ini membuat warga tidak nyaman dan khawatir dengan dampak kesehatan yang mungkin terjadi akibat bau yang terus-menerus mengganggu.

Salah satu warga setempat yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, bau yang muncul sangat menyengat dan terkadang sulit untuk dihirup.

“Kami khawatir ini bisa mempengaruhi kesehatan kami dan keluarga kami. Selain itu, bau ini juga mengganggu pekerjaan dan keseharian kami yang harus tetap produktif di dalam rumah,” ujar dia, saat ditemui media Haluan Lampung, Minggu (12/3/2023).

Menurut warga yang lain, sebut saja Srikandi, dirinya bersama warga sempat menolak jika sanitasi dari pembangunan SPALD-S disalurkan ke septic tank milik mereka.

“Kami menolak saat akan disalurkan ke septik tank, namun dipasang ke pembuangan air limbah di dapur kami,” sebut dia.

Dia melanjutkan, setelah terpasang sanitasi aliran limbah ini, ruangan dapur masak masyarakat Desa Durian yang terpasang SPALD-S selalu mendapatkan bau tidak sedap.

Bau itu, sambung dia, tersembur dari paralon yang terhubung dengan penampungan air tinja SPALD-S yang ada tepat di depan lingkungan mereka.

“Awalnya saya mencium bau tidak sedap, sehingga saya harus menggunakan masker berlapis untuk mencari asal bau. Akhirnya saya temukan berasal dari pembuangan air limbah yang telah disambungkan ke lubang tinja SPALD-S,” papar dia.

Terpisah, AR selaku ketua Pokmas Desa Durian yang juga menjabat aparatur desa dan ikut mengerjakan proyek SPALD-S mengaku, bekerja sesuai petunjuk kepala desa.

“Di proyek SPALD-S ini saya hanya sebatas mengerjakan, kalau ada perintah ambil uang saya ambil, jika disuruh ambil material saya ambil, semuanya dikelola kepala desa yang sedang sakit pasca Pilkades,” ungkap AR.

Dari hasil investigasi di lapangan, pembangunan SPALD-S tahun 2022 dengan anggaran senilai Rp600 juta ini terindikasi penuh penyimpangan.

Pasalnya, para pekerja pembangunan SPALD-S di Desa Durian, tidak mendapatkan bagian pengaman pekerja.

“Saat kerja kami beli sendiri pak, mulai dari helm, sepatu, dan sarung tangan. Padahal saat kerja nalut siring dikasih lengkap alat keamanan kerja. Kalau kerja di pembangunan SPALD-S ini saya beli sendiri,” ungkap salah satu pekerja.

Hingga berita ini diterbitkan belum ada keterangan atau tanggapan resmi dari dinas PUPR Pesawaran atas keluhan masyarakat serta dugaan pengerjaan SPALD-S yang diduga merugikan negara, yang dianggap telah memenuhi syarat (PHO).(MDS)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan