Bandar Lampung — Konferensi Cabang (Konfercab) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bandar Lampung ke-XXXVIII yang semestinya menjadi ajang konsolidasi demokrasi justru diwarnai keganjilan. Sebelum forum resmi ditutup, sudah muncul klaim adanya formatur baru. Langkah ini dianggap menyalahi aturan organisasi dan merusak tradisi musyawarah yang menjadi fondasi PMII.
Sejumlah peserta forum menegaskan, proses sidang masih berlangsung dan belum sampai tahap pengesahan pleno. Namun, sebuah kelompok justru mengumumkan telah membentuk formatur serta menyusun kepengurusan baru, Senin (8/9/2025)
“Tidak ada berita acara sidang yang menutup forum secara sah, apalagi mengesahkan formatur. Itu tindakan sepihak yang tidak bisa dibenarkan,” ungkap seorang peserta aktif sidang yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Seorang pengurus cabang menilai manuver tersebut sebagai bentuk “pembajakan forum organisasi.” Menurutnya, formatur hanya bisa dibentuk melalui sidang pleno terakhir yang diputuskan presidium dan disepakati seluruh peserta. Tanpa mekanisme itu, klaim formatur hanyalah produk tanpa legitimasi.
Ironisnya, pihak yang mengumumkan struktur formatur baru hingga kini belum memberikan klarifikasi resmi, sehingga memperkuat dugaan adanya penyalahgunaan forum.
Ketua Rayon PMII Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama, Altof, menilai tindakan sepihak itu merusak marwah organisasi.
“PMII tidak boleh dijalankan dengan nafsu pribadi. Nilai yang dijunjung adalah kolektivitas dan musyawarah. Kalau aturan dilangkahi, hasilnya cacat dan bisa menghancurkan tatanan kaderisasi,” tegasnya.
Ia juga memperingatkan potensi buruk jika praktik seperti ini dibiarkan.
“Besok-besok siapa saja bisa mengklaim hasil konferensi tanpa dasar, hanya bermodal klaim massa. Itu bukan cara berpikir kader yang matang. Kita harus kembali ke asas organisasi,” tambahnya.
Situasi ini membuat banyak kader mendesak Pengurus Besar PMII turun tangan agar forum segera diluruskan. Mereka khawatir bila polemik dibiarkan, legitimasi organisasi akan tergerus dan keutuhan kader terancam.
“Konfercab kali ini adalah ujian serius. Apakah PMII Bandar Lampung mampu menjaga marwah demokrasi internal, atau justru membiarkan ambisi kelompok merusak legalitas,” ujar salah seorang kader.








