Puasa Melembutkan Hati

Puasa Melembutkan Hati/Net

BERBAGAI penelitian menyebutkan bahwa orang yang berpuasa memiliki kondisi kesehatan fisik lebih baik dibanding yang tidak. Salah satu penyebabnya adalah karena orang yang berpuasa memiliki keteraturan dalam pola makan.

Para pakar juga menyebut bahwa orang yang berpuasa memiliki keadaan psikologis sangat baik. Hal ini dikarenakan orang yang berpuasa dilatih agar mampu mengendalikan hawa nafsunya. Karena itu Pimpinan Askar Kauny, ustadz Bobby Herwibowo mengatakan orang berpuasa sesuai tuntunan Rasulullah SAW akan memiliki hati yang lembut dan tenang.

Bacaan Lainnya

Karena menurutnya secara prinsip orang yang berpuasa tengah menjalankan perintah Allah. Sedang orang yang taat kepada Allah akan mendapatkan ketenangan batin. Lain halnya dengan orang yang tidak berpuasa.

Orang yang tak puasa berarti melawan atau bertentangan dengan perintah Allah. Sedangkan menentang perintah Allah adalah kemaksiatan atau kedurhakaan yang menyebabkan hati seseorang menjadi resah dan gelisah.

Jadi, shaum membuat hati, pikiran menjadi tenang, menjadi lembut karena kita taat kepada Allah dan karena puasa mengantarkan kita pada derajat takwa.

Surat At Talq mengatakan “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya”.

Dari petikan ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap persoalan yang dihadapi oleh orang yang bertakwa. Sehingga dengan jalan keluar tersebut, orang yang yang bertakwa akan tenang dalam menjalani hidupnya dan hatinya akan menjadi lembut. Lebih dari itu orang yang akan mendapatkan ampunan dan pahala yang berlipat ganda.

Mengapa shaum mengantarkan kita pada derajat takwa, karena takwa itu manfaatnya banyak. Melembutkan hati, membuat tenang hidup, masalah mudah, rezeki lancar, menghapuskan kesalahan, dan mendapatkan pahala yang besar.

Orang yang puasa akan semakin semangat melakukan ketaatan meninggalkan kemaksiatan. Orang yang berpuasa juga akan lebih mudah diterima taubatnya. Sebaliknya orang yang tidak berpuasa dan selalu melakukan kemaksiatan maka hatinya akan semakin gelap dan keras sehingga berdampak pada perilaku yang buruk. Sebagaimana pendapat Hasan Basri bahwa ketika seseorang meninggalkan ketakwaan maka dosanya akan menumpuk.

Dosa itu akan menggelapkan hati dan menjadikan hati keras sehingga jauh dari Allah. Dalalm kitan Hasyiyah Al Jamal dijelaskan puasa itu semestinya menghasilkan dua zuhud.

Pertama zuhud wajib yakni meninggalkan perbuatan yang diharamkan Allah. Kedua, zuhud sunah yaitu puasa hendaknya bisa melembutkan hati dan bisa melaksanakan perbuatan yang bermanfaat. Sehingga orang yang berpuasa akan memiliki fadilah yaitu lembut hatinya, baik sangka, dan tidak melakukan kejelekan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan