Dugaan Intimidasi dan Manipulasi, Pemilihan Ketua PWI Lampung Timur Jadi Sorotan

Lampung Timur – Proses pemilihan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung Timur periode 2026–2029 menuai sorotan tajam dari internal organisasi. Sejumlah anggota biasa menilai tahapan pemilihan diwarnai dugaan intimidasi, praktik politik uang, serta penetapan calon tunggal yang disebut tidak merepresentasikan kehendak mayoritas anggota.

Beberapa anggota PWI Lampung Timur yang memiliki hak suara mengaku mendapat tekanan psikologis menjelang pemilihan. Tekanan tersebut diduga dilakukan melalui komunikasi personal secara intensif oleh calon tunggal kepada anggota satu per satu, menyusul adanya perbedaan sikap dan pandangan politik di internal organisasi.

“Anggota ditelepon satu per satu. Padahal pilihan setiap anggota adalah hak pribadi. Ini organisasi profesi wartawan, bukan arena tekanan,” ujar seorang anggota biasa PWI Lampung Timur yang meminta identitasnya dirahasiakan demi menjaga situasi tetap kondusif.

Selain dugaan intimidasi, muncul pula informasi terkait dugaan pemberian uang kepada sejumlah anggota biasa PWI Lampung Timur yang memiliki hak suara. Dugaan tersebut mencuat saat proses pengumpulan dukungan menjelang pemilihan Ketua PWI Lampung Timur.

Menurut keterangan sejumlah anggota, pemberian uang tersebut diduga hanya menyasar anggota yang memiliki hak suara, sehingga memunculkan persepsi adanya upaya memengaruhi pilihan dalam pemilihan.

“Pendekatan yang terjadi bukan lagi adu gagasan atau program organisasi, tapi sudah mengarah pada transaksi. Kalau seperti ini, marwah PWI Lampung Timur yang dipertaruhkan,” ungkap anggota lainnya.

Tak hanya soal dugaan intimidasi dan politik uang, penetapan calon tunggal oleh panitia penjaringan juga menuai kritik. Sejumlah anggota menilai calon tunggal yang ditetapkan memiliki rekam jejak kepemimpinan yang sejak periode sebelumnya tidak mendapat dukungan penuh dari anggota biasa PWI Lampung Timur.

Berdasarkan keterangan beberapa anggota, pada pemilihan periode sebelumnya, sebagian besar anggota biasa disebut tidak memberikan dukungan secara sukarela kepada calon tunggal tersebut. Dukungan kala itu disebut muncul karena adanya permintaan dan dorongan dari pengurus sebelumnya demi menjaga stabilitas organisasi.

“Waktu periode lalu, hampir tidak ada anggota biasa yang secara murni mendukung. Kami diminta untuk patuh demi organisasi. Tapi setelah menjabat, hubungan dengan banyak anggota justru renggang,” ujar seorang anggota yang pernah terlibat langsung dalam proses pemilihan sebelumnya.

Kondisi tersebut menimbulkan akumulasi kekecewaan di internal PWI Lampung Timur. Sejumlah anggota menilai kepemimpinan calon tunggal saat ini gagal membangun komunikasi yang sehat, inklusif, dan merangkul seluruh anggota, sehingga kepercayaan internal terus tergerus.

“Ini bukan sekadar soal siapa ketua. Ini soal kepemimpinan yang diterima atau tidak oleh anggota. Kalau sejak awal tidak didukung dan sekarang muncul dugaan intimidasi serta uang, wajar kalau anggota resah,” kata anggota lainnya.

Saat dikonfirmasi terkait dugaan intimidasi dan pemberian uang, calon tunggal Ketua PWI Lampung Timur membantah adanya praktik politik uang. Ia menyatakan bahwa pemberian tersebut bukanlah suap, melainkan bentuk kepedulian kepada keluarga besar PWI Lampung Timur.

“Money politic dari mana? Yang saya beri itu keluarga besar saya di PWI Lampung Timur. Itu hal yang wajar, apalagi saya masih aktif sebagai ketua,” ujarnya.

Meski demikian, bantahan tersebut belum sepenuhnya meredam polemik. Pasalnya, berdasarkan keterangan sejumlah anggota, pemberian uang itu diduga hanya diberikan kepada anggota yang memiliki hak suara, sehingga tetap memunculkan persepsi adanya upaya pengondisian dukungan.

Sejumlah anggota berharap PWI Provinsi Lampung turun tangan melakukan evaluasi dan pengawasan guna memastikan proses pemilihan Ketua PWI Lampung Timur berjalan sesuai prinsip demokrasi, transparansi, dan etika organisasi profesi wartawan. (Dbs)

Pos terkait