BANDAR LAMPUNG — Harapan untuk pulang dengan kondisi membaik justru berubah menjadi malam penuh rasa sakit. Seorang pasien mengaku tidak menerima obat apa pun usai menjalani tindakan operasi gigi di Klinik Rawat Inap Dokter Kosasih, Jumat (13/02/2026). Beberapa jam setelah meninggalkan klinik, pasien mengalami mual, muntah, dan nyeri hebat yang tak tertahankan.
Menurut keterangan pasien kepada media, tindakan operasi gigi dilakukan pada Jumat siang. Setelah prosedur selesai, pasien diperbolehkan pulang tanpa diberikan obat pereda nyeri maupun obat lanjutan, meski baru saja menjalani tindakan medis invasif.
“Setelah sampai di penginapan, saya mulai mual, muntah, dan rasa nyerinya luar biasa,” ujar pasien saat menceritakan kondisinya, Jumat (13/02/2026).
Merasa kondisinya tidak wajar, pasien kemudian menghubungi dokter gigi yang menangani tindakan tersebut untuk menanyakan keluhan yang dialaminya. Namun, respons yang diterima justru menimbulkan tanda tanya.
“Dokternya bilang nanti akan diresepkan obat, lalu saya diminta menebusnya sendiri di apotek terdekat. Saya ditanya, ‘gimana pak?’,” tutur pasien.
Pasien menilai, seharusnya obat diberikan langsung oleh pihak klinik sebagai bagian dari pelayanan pascaoperasi, terlebih tindakan dilakukan di fasilitas kesehatan dengan layanan rawat inap 24 jam. Ia mengaku kebingungan harus mencari obat dalam kondisi fisik yang melemah akibat nyeri dan muntah.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan publik mengenai standar pelayanan pasca tindakan medis, khususnya terkait pemberian obat dan pemantauan kondisi pasien setelah operasi. Redaksi membuka ruang klarifikasi dan hak jawab bagi pihak klinik untuk memberikan penjelasan secara utuh. (Red)








