Ramadan 1447 H, Gas Elpiji 3 Kg Langka dan Mahal di Lampung Utara

Oplus_16908288

Lampung Utara — Persoalan gas elpiji subsidi 3 kilogram di Kabupaten Lampung Utara kembali mencuat dan seolah menjadi masalah tahunan yang tak pernah tuntas. Menjelang hari-hari besar keagamaan dan bulan suci Ramadan, kelangkaan serta lonjakan harga gas elpiji 3 kg kembali dirasakan masyarakat.

Kondisi ini memunculkan dugaan kuat adanya permainan stok dan harga oleh oknum mafia migas.

Informasi penambahan dua agen gas elpiji di Lampung Utara sejatinya diharapkan mampu mengurangi keluhan warga, mempermudah akses gas elpiji 3 kg, serta menekan lonjakan harga di tingkat pengecer. Namun realitas di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Penambahan agen tersebut diduga tidak memberikan dampak signifikan terhadap ketersediaan maupun stabilitas harga.

Selama Ramadan 1447 H/2026, awak media melakukan pemantauan di sejumlah wilayah perkotaan hingga perdesaan di Lampung Utara. Hasilnya, keluhan warga relatif sama: gas elpiji 3 kg sulit didapat di pangkalan resmi, sementara harga di tingkat pengecer terus merangkak naik.

Ryo, warga Kelurahan Kota Alam, mengaku kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kg di pangkalan resmi yang kerap beralasan stok kosong.

“Sulit bang. Sekarang harga di pengecer Rp25 ribu per tabung kalau kita beruntung, kadang bisa Rp30 ribu. Kami minta pihak terkait, terutama bapak Gubernur Lampung, serius mengawasi distribusi gas elpiji 3 kg agar tepat sasaran. Harapan kami dengan adanya agen baru bisa meringankan, ternyata sama saja,” keluh Ryo, Minggu (22/02/2026).

Keluhan serupa disampaikan Mery, ibu rumah tangga di Kelurahan Tanjung Senang. Ia mempertanyakan peran pemerintah dalam pengawasan distribusi gas elpiji subsidi.

“Kalau ke pangkalan jawabannya pasti kosong atau habis. Tapi anehnya, di pengecer stok berlimpah, bahkan bukan puluhan lagi, bisa ratusan tabung. Ini terang-terangan, tapi seolah tidak terlihat oleh pihak terkait,” ujarnya dengan nada sinis.

Ia juga meragukan efektivitas inspeksi mendadak (sidak) yang kerap dilakukan.

“Jujur saja mas, kami sangat meragukan tim sidak itu. Jangan-jangan hanya formalitas. Kami rakyat kecil berharap bapak Gubernur Lampung benar-benar melihat penderitaan kami dan menindak tegas mafia gas elpiji di Lampung Utara,” tandasnya.

Tak hanya di wilayah perkotaan, di sejumlah desa awak media juga menerima aspirasi warga melalui pesan singkat WhatsApp dan media sosial. Mereka berharap jeritan masyarakat kecil ini bisa didengar hingga ke tingkat pusat, termasuk Presiden RI dan Gubernur Lampung.

Hingga berita ini diterbitkan, awak media masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait, di antaranya HISWANA Migas tingkat kabupaten dan provinsi, Dinas Perdagangan Kabupaten Lampung Utara, Dinas ESDM Provinsi Lampung, serta Rahmat Mirzani Djausal dan Polda Lampung, guna memperoleh penjelasan resmi terkait dugaan permainan distribusi dan harga gas elpiji 3 kg tersebut. (Red)

Pos terkait