Sukabumi, – Selama lebih dari tiga dekade, Star Energy Geothermal Salak, Ltd. (SEGS) telah menjadi bagian penting dari penyediaan energi panas bumi di Jawa Barat. Kini dengan kapasitas terpasang 403,2 megawatt (MW), operasi Salak terus berkembang dengan meningkatkan kontribusi energi bersih sekaligus menjalankan operasi secara bertanggung jawab di bentang alam Halimun–Salak yang memiliki nilai konservasi tinggi.
Kapasitas tersebut berasal dari Unit Satu, Dua dan tiga sebesar 180 MW, Unit empat, lima, dan enam sebesar 208,7 MW, serta Binary Power Plant sebesar 14,5 MW yang mulai beroperasi pada 2025.
Ke depan, pengembangan Unit tujuh berkapasitas 40 MW yang direncanakan beroperasi secara komersial pada Desember 2026 akan membawa kapasitas Salak menjadi sekitar 443 MW.
Menurut Kepala Teknik Panas Bumi Star Energy Geothermal Salak Ltd, Irwan Januar, pengalaman panjang di Salak menunjukkan bahwa keberlanjutan operasi panas
bumi membutuhkan perspektif jangka panjang.
“Selama lebih dari tiga dekade, Salak terus menghasilkan energi terbarukan yang andal sekaligus berkembang melalui peningkatan efisiensi dan optimalisasi sumber daya yang telah ada, bagi kami, pertumbuhan juga harus berjalan dengan disiplin dalam membatasi footprint operasi serta menjaga ekosistem tempat kami beroperasi.” ungkap Irwan, Selasa (18/08/2026)
Dikatakan Irwan dari wilayah kontrak sekitar 10.000 hektare, fasilitas panas bumi Salak menggunakan sekitar 236 hektare atau kurang dari 2,4 persen, yang mencakup pembangkit, well pad, jalan akses, dan fasilitas pendukung.
Konservasi Berbasis Data Beroperasi di bentang alam Halimun–Salak yang menjadi habitat berbagai spesies penting dan dilindungi membawa tanggung jawab tersendiri. Karena itu, SEGS menjalankan restorasi ekosistem dan pemantauan biodiversitas sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan jangka panjang.
Sementara Kepala Investasi Sosial, Kebijakan dan Komunikasi Star Energy Geothermal Laksmi Prasvita menjelaskan, Melalui Green Corridor Initiative, sekitar 275 hektare habitat telah direstorasi dengan penanaman sekitar 250.000 ta PPnaman dari 30 jenis pohon asli Halimun–Salak. Program ini diarahkan bukan hanya untuk mengembalikan tutupan vegetasi, tetapi juga memperkuat fungsi habitat dan konektivitas ekologis.
Pemantauan lingkungan juga menunjukkan perkembangan positif. Pada periode 2023–2025,
indeks keanekaragaman fauna Shannon-Wiener meningkat dari 2,50 menjadi 3,20, sementara
indeks flora meningkat dari 2,52 menjadi 2,67. Pemantauan kerapatan tajuk menunjukkan tutupan pada kisaran 60–80 persen, tanpa kecenderungan penurunan progresif yang teramati sepanjang periode monitoring 2014–2025.
“Bagi kami, restorasi bukan sekadar menghitung berapa banyak pohon yang ditanam. Yang lebih
penting adalah apakah fungsi habitat dan konektivitas ekologisnya kembali. Karena itu, kami menggunakan data dan pemantauan jangka panjang untuk memahami perubahan yang terjadi dan menentukan tindakan berikutnya,” ujar Laksmi.
Pendekatan berbasis data tersebut diperkuat melalui kolaborasi dengan pemerintah, pengelola
kawasan konservasi, peneliti, dan organisasi konservasi. Dalam Java-wide Leopard Survey (JWLS) di bentang alam Halimun–Salak, sebanyak 240 kamera pengintai ditempatkan pada 120 petak survei. Survei tersebut berhasil mengidentifikasi 51 individu Macan Tutul Jawa, termasuk tiga anakan. Survei lapangan Halimun–Salak merupakan bagian dari kerja multipihak.
“Temuan tersebut menjadi baseline ilmiah untuk membantu memahami kondisi populasi,
penggunaan ruang, serta kebutuhan pemantauan dan tindakan konservasi berikutnya.
Pemantauan Elang Jawa di TNGHS juga telah mendokumentasikan 10 sarang aktif, terdiri dari
tujuh di wilayah Gunung Salak dan tiga di Gunung Halimun, yang memberikan informasi penting
mengenai habitat perkembangbiakan spesies tersebut,” lanjutnya
Selain itu, Keberlanjutan Salak juga mencakup masyarakat di sekitar wilayah operasi. Sepanjang 2024–2025, program lingkungan, kesehatan, dan pendidikan SEGS menjangkau lebih dari 1.500
penerima manfaat langsung, termasuk layanan kesehatan bagi 1.019 warga, beasiswa bagi 27
mahasiswa, serta peningkatan kompetensi 144 guru di enam sekolah.
Operasi Salak juga membuka peluang ekonomi lokal. Saat ini terdapat sekitar 1.100 tenaga kerja
kontraktor, dengan sekitar 88 persen berasal dari Sukabumi dan Bogor.
“Melalui pengembangan kapasitas pembangkitan, pengelolaan footprint operasi, restorasi habitat, pemantauan biodiversitas, dan pemberdayaan masyarakat, SEGS akan terus mengembangkan Salak dengan pendekatan yang menghubungkan energi, ekosistem, dan masyarakat dalam satu
bentang alam,” pungkasnya.








