Oleh: Iwa Perkasa
KAMPUNG anu yang kumuh itu tiba-tiba saja heboh. Seorang warga yang dikenal sebagai tokoh adat memerintahkan tetangga yang tinggal di sebelah rumahnya untuk menunda pesta pernikahan anaknya.
Perintah itu diumumkan secara terbuka hingga semua warga kampung kaget dan heran, lalu ramai-ramai memprotes. “Kok bisa begitu, gak bener tuh,” ujar seorang RT.
Ada pula yang ‘mesem-mesem’ dan tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk jidatnya. “Apa urusannya bapak itu perintahin nunda-nunda pernikahan anak orang. Jadi curiga gue,” ujar seorang pemuda kampung sambil tertawa-tawa. “Jangan-jangan, jangan-jangan nih,” katanya mencibir.
Tentu saja keluarga Pak Nyoblos yang punya ajat tidak senang dan memprotes perintah tokoh adat itu.
Tapi untunglah Pak Nyobloss tetap tenang sambil menyiapkan perlawanan.
“Enak aja, apa urusannya bapak itu nunda-nunda pesta anak kami. Lebay!” ketusnya.
Meski melawan dengan tenang, Pak Nyoblos tidak sepenuhnya tenang. Ia was-was, sebab bagaimana pun perintah tokoh adat itu sulit ditentang lantaran dikenal menakutkan.
“Bagaimana ya, bisa ngamuk dia kalau ditentang,” ujar Pak Nyoblos kepada istrinya.
“Gak bisa dong Pak, mana mungkin bisa ditunda, kan hari dan tanggalnya sudah ditetapkan. Undangan juga sudah disebar. Lagi pula, lihat tuh perut anak kita, hamilnya sudah masuk bulan ketiga,” timpal istrinya.
“Pokoknya tanggal 14 Februari 2024 kita mesti nikahin anak kita. Kacau pak kalau ditunda, keburu lahir cucu kita,” kata si istri sambil meremas-remas bagian bawah dasternya hingga terbuka sampai sebatas paha.
Pak Nyoblos tetap tenang, matanya meredup, lalu menarik tangan istrinya. “Masuk kamar, kita bahas sambil tiduran. Setelah itu kita minta petunjuk Tuhan, seperti yang dilakukan elit partai itu.”
Daster pun jatuh ke lantai…
Pemimpin Redaksi Haluan Lampung








