Pesibar dan Lampura Waspada Cuaca Ekstrem

Pesibar dan Lampura Waspada Cuaca Ekstrem
Ilustrasi cuaca ekstrem. Foto Istimewa

Bandarlampung – Stasiun Meteorologi Maritim BMKG Lampung mengingatkan, Pesisir Barat dan Lampung Bagian Utara bakal terjadi hujan di atas normal dalam beberapa hari ke depan.

Potensi curah hujan di dua daerah tersebut, tulis BMKG Lampung dalam rilisnya, lebih tinggi dibandingkan kabupatan kota lain yang ada di wilayah Lampung.

Bacaan Lainnya

“Terdapat dua daerah di Provinsi Lampung yang memiliki potensi curah hujan lebih tinggi. Yakni, Pesisir Barat dan Lampung Bagian Utara,” kata Tarjono, Kepala Stasiun Meteorologi Maritim BMKG Lampung, Senin (4/12/2023).

Menurutnya, saat ini Provinsi Lampung telah memasuki musim peralihan dari kemarau ke musim penghujan. Masa selama pancaroba ini, kata dia, berpotensi memunculkan cuaca ekstrim. Hujan deras disertai petir, hingga angin kencang.

Baca Juga  Pendaftaran Caleg Partai Demokrat Lampura Terbuka untuk Masyarakat Umum

“Puncak musim penghujan, terdeteksi pada Bulan Januari hingga Februari. Saat ini, wilayah Lampung sudah masuk musim peralihan,” ujar Tarjono.

BMKG Lampung, dijelaskannya, telah melakukan upaya mitigasi terhadap kedua daerah tersebut (Pesisir Barat dan Lampung Bagian Utara) dengan menginformasikan kepada pemerintah daerah, agar mengimbau warga untuk selalu meningkatkan kewaspadaan.

“Stakeholder kami ada BPBD, Basarnas. Mereka yang melakukan action dan mengimbau kepada masyarakat kemudian dievakuasi, mereka yang mempunyai wewenang. BMKG, dalam hal ini, memberi warning peringatan dini,” ujarnya.

Memasuki dekade cuaca peralihan, kata dia, potensi cuaca ekstrem rentan terjadi. “Bisa angin kencang, hujan lebat, disertai petir, bahkan bisa terjadi puting beliung. Itu karakteristik cuaca di masa peralihan musim,” imbuhnya.

Baca Juga  Rapat Konsolidasi Kader Golkar: Kemunculan Azis Syamsuddin Buat Bingung Publik

Cuaca ekstrem terjadi tak terkecuali di semua wilayah Lampung. Termasuk, ujar dia, wilayah Gunung Anak Krakatau (GAK) yang saat ini masih terjadi erupsi. “Itu karakteristik di peralihan musim sama seperti itu baik di daratan maupun kepulauan,” terangnya.

Bisa saja, kata Tarjono, cuaca ekstrem berupa belokan angin di lapisan udara memengaruhi tinggi gelombang laut. Karena angin, saat cuaca ekstrem, bertiup lebih kencang.

“BMKG mengimbau, masyarakat yang beraktivitas di lautan sebaiknya update terus informasi dari BMKG dan jangan memaksakan diri jika cuaca tidak dirasa kondusif, semata-mata untuk keselamatan para pengguna data yakni nelayan,” imbuhnya.(*)

Pos terkait