Tidur, Namun Status Anak Krakatau di Level II Waspada

Banten Mulai Waspada: Aktivitas Anak Krakatau Makin Meningkat
Aktivitas Gunung Anak Krakatau. Foto Antara

Kalianda – Aktivitas erupsi (letusan) Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda perbatasan Lampung dan Banten dalam satu pekan terakhir terbilang senyap, bahkan cenderung tidur.

Letusan terakhir sebanyak tiga kali, terjadi pada Sabtu (16/12/2023) pekan lalu.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan data Magma Indonesia Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) ESDM, Rabu (20/12/2023), tidak terdapat erupsi pada GAK selama seminggu terakhir ini.

Namun begitu, PVMBG masih memberikan GAK status Level III atau Siaga, dan juga melarang pengunjung mendekati kawah aktif GAK dalam radius 5 km.

Menurut Kepala Pos Pemantau GAK di Desa Hargo Pancuran, Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan Andi Suardi, erupsi GAK terakhir terjadi tiga kali pada Sabtu pekan lalu, dengan ketinggian maksimal kolom abu vulkanis mencapai 1.000 meter.

Baca Juga  Siap-siap, Polres Tulangbawang Barat Gelar Operasi Patuh Krakatau

“Erupsi terakhir terjadi Sabtu lalu tiga kali. Empat hari terakhir tidak terdata erupsi,” kata Andi Suardi.

Dia mengatakan, meski aktivitas erupsi GAK menurun dalam sepekan terakhir, namun kepada warga setempat dan pengunjung tetap waspada karena status GAK masih belum diturunkan dari Siaga (Level III) menjadi Waspada (Level II).

Kepada nelayan dan wisatawan khususnya, kata dia, tetap dilarang mendekati kawasan GAK dalam radius 5 km. Hal ini untuk menjaga kemungkinan GAK kembali erupsi dengan mengeluarkan lava pijar dan juga abu vulkanis yang dapat merusak kesehatan.

Baca Juga  Adi Erlansyah Pimpin Refleksi Isra Miraj: Harmoni Pringsewu Terjaga

Sementara berdasarkan keterangan warga di Pulau Sebesi, ‘hujan’ abu vulkanis GAK mulai mereda. Sebelumnya, warga yang mendiami pulau terdekat dengan GAK tersebut mengalami mata perih dan sesak napas saat beraktivitas di luar rumah.

Sedangkan rumah-rumah warga di Pulau Sebesi selama erupsi terjadi penuh dengan kotoran debu abu vulkanis GAK.

“Sekarang sudah berkurang. Kalau kemarin-kemarin, mata pedi dan sesak napas,” kata Helmi, warga Desa Regahan Lada, Pulau Sebesi.

Dia mengatakan, aktivitas warga yang rata-rata sebagai nelayan masih tetap melaut mencari ikan. Meski saat terjadi erupsi GAK sebelumnya, warga masih melaut mencari ikan di perairan Selat Sunda, namun tidak mendekati GAK.(Rol)

Pos terkait